Thursday, September 1, 2016

Apa yang Dia Pikirkan?

Sudah sejak tgl 25 bulan lalu saya di Jepang. Salah satu alasan saya kembali berlibur kesini adalah untuk bertemu dengannya. Namun, sampai sekarang saya belum berjumpa dengannya.

Saya tiba tanggal 25, saya berusaha menghubunginya lewat chat, namun tak dihiraukannya, tak ada balasan apapun. Teman saya yang merupakan teman baiknya berusaha membantu saya, maka dia menghubunginya. Dengan segera dia menghubungi saya, dia bilang kami bisa bertemu tanggal 28. Saya akui, saya menjawab semua pesan yang dia berikan dengan nada kesal. Hal ini tentu saja juga menyakitkan hati saya, tapi dia harus tahu bahwa saya kesal karena dia tak menghiraukan saya.

Tanggal 28 tiba, saya sempat menghubunginya lewat chat beberapa kali sebelum hari H ini, dia tak membalas (lagi). Awalnya saya masih sangat santai, ya toh hari ini kami bertemu, walau ada juga kekhawatiran di diri saya, karna dia tak membalas pesan-pesan saya. Saya kesampingkan kekhawatiran tersebut, saya pergi bertemu teman saya yang lain. Saya ke kawasan Kawasaki, makan Sushi, berfoto box dan main pachinko! Hebatnya saya menang main pachinko, tak seberapa, karna saya hanya main satu game. Saya berfikir untuk memamerkan di depannya nanti.

Selesai bermain di kawasan Kawasaki, saya segera kembali ke Tokyo. Saya menghubunginya, namun masih tak ada jawaban. Kesal. Saya akhirnya menemui teman saya yang merupakan teman baiknya, sebut M. Kami akhirnya main berdua di kawasan Shibuya. Selesai bermain, dia masih tak ada kabar. Keesokan harinya, M akhirnya menolong saya untuk menelponnya, telponnya pun tak diangkatnya. Saya kemudian memutuskan untuk ke Kyoto.

Setelah sampai di Kyoto, saya berusaha untuk bermain dan menikmati liburan saya. Siang harinya, M menghubungi saya, dia bilang hp nya rusak, tak bisa membuka pesan, hanya dapat di telpon. Saya mencoba menelponnya berkali2 setelahnya, namun satu pun tak diangkatnya. Saya kesal, tapi tak juga hanya membiarkan seperti ini. Saya sengaja ke negara ini untuk bertemu dengannya, dan telah menunggu satu setengah tahun lebih untuk bertemu dengannya.

Saya akhirnya meminta teman baik saya di Indonesia untuk mengirimkannya pesan singkat, karena provider saya di banned di negara ini. Saya memintanya untuk ke Osaka. Saya berharap dia segera menghubungi saya.