Sunday, July 31, 2016

E.G.O

Hal yang selalu menghalangi kita untuk dapat mengerti orang lain. Semua orang akan merasa bahwa dirinya telah berusaha sebaik mungkin untuk pasangan mereka, yang tak jarang hanyalah perasaan mereka, bukan perasaan pasangan. Kita sering berbincang dengan pasangan, namun sebanyak apa yang kita benar-benar dengarkan? Ataukah hanya membalas apa yang dia katakan?

Saya berusaha menekan ego saya. Dalam berhubungan harus ada kata saling, saling memeluk, saling mencumbu, saling memandang, saling pengertian, dll. Hal ini terkadang kita lupakan.

Saya dan dia telah berencana menikah, namun karena jarak dua negara harus ditempuh oleh pesawat selama 7-8 jam, maka kami sepakat untuk membicarakannya saat kami bertemu bulan depan. Mengapa tak dibicarakan lewat chat, video call, atau free call basis internet? Karna dia sangat sibuk, sangat-sangat sibuk, dan juga biaya internet di negaranya tidaklah murah. Kami mungkin memang saling cinta, tapi kami berusaha realistis dan tidak berlebihan selama masa pacaran ini.

Sejujurnya saya memikirkan banyak hal mengenai kemungkinan pernikahan kami, pasalnya kami memiliki nasionalisme, kebudayaan, dan bahasa yang berbeda. Tak jarang saya mempertanyakan kecocokan kami berdasarkan perbedaan tersebut, serta masa depan kami, yang kemudian muncul keraguan. Semuanya ditepis oleh karakter dan sikapnya kepada saya. Ya, kami berusaha saling percaya, saling bicara dan saling mendengar. Sulit, namun tetap berusaha.

Akhir-akhir ini hubungan komunikasi kami tidak baik, dia sibuk bekerja. Hal tersebut membuatnya lelah, hingga responnya terkadang terasa dingin dan bosan. Kecewa dengan hal ini, saya pun akhirnya membalas sekenanya. Mencoba memahaminya yang sibuk dengan tidak menggangunya dengan pertanyaan-pertanyaan sepele, saya berusaha untuk mandiri.

Tak jarang kemudian saya berangan, merencanakan masa depan kami berdua, memikirkan serius apa yang saya inginkan, keluarga ideal yang baik untuk kami berdua. Terfikirlah oleh saya untuk belajar lebih giat bahasa negeri tirai bambu, pasalnya kami menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi. Sehingga, saya merasa wajar jika saya yang nantinya sebagai ibu harus belajar lebih dalam bahasa tersebut. Didahului berbicara pada pasangan saya mengenai niat itu, kemudian saya mendaftar beasiswa s2 di sana.

Semua berita terbaru mengenai beasiswa tersebut selalu saya kabarkan padanya, hingga akhirnya surat universitas sampai di rumah saya. Saya foto dan dikirim ke dia. Awalnya tak ada respon yang berarti. Beberapa hari setelahnya, responnya mulai memendek dan perhatiannya terasa berkurang. Saya kemudian bertanya padanya masih adakah niatnya menikah dengan saya? Dia menjawab bahwa sayalah yang tidak ada niat menikah dengannya. Saya terteguh, membalas perlahan, berdasarkan apa dirinya berbicara demikian? Dia menjawab bahwa saya pergi selama dua tahun di negeri orang, bagaimana kami dapat merencanakan pernikahan kami? Sedangkan kami akan terus menua?

Hal ini membingungkan saya, saya pergi untuk belajar dan masa depan keluarga kami, saya juga sudah mengutarakan rencana saya dengan baik sejak pertama kali saya mendaftar, dan bukankah menjadi mahasiswa lebih bebas? Saya memiliki waktu cukup untuk belajar maupun merencanakan pernikahan, tak seperti pegawai kantoran yang terikat aturan jam kantor dan jam masuk. Ya, saya merasa bahwa apa yang telah saya lakukan semua demi kami berdua, saya merasa bahwa dia seharusnya percaya pada saya. Maka saya kembali menjelaskan itu semua dan bertanya apakah dia percaya pada saya?

Dia tidak menjawab. Ya, saya sabar menunggu jawaban darinya. Satu hari, dua hari, tiga hari. Saya perlahan mulai gelisah, mencoba berfikir ulang, mencoba mencari kesalahan, namun masih tak menemukan. Empat hari. Dia masih tak menjawab, saya mengirimkannya foto visa ke negaranya yang baru usai saya urus, memberinya tanda bahwa saya secepatnya akan kesana, jadi mohonlah untuk menjawab pertanyaan saya. Dia masih tak menjawab.

Hari kelima. Saya keluar bertemu teman-teman lama saya. Bertukar cerita, saya pun menceritakan masalah saya. Kami hanya sekedar sharing, tak pernah saling menghakimi apa yang harus diperbuat atau harus bagaimana. Namun, dari sanalah saya menyadari. Ego. 

Saya menyadari bahwa pendapat saya pergi s2 untuk kebaikan bersama adalah hanya pendapat saya, bukan pendapatnya. Bahwa dua tahun masa yang singkat adalah bagi saya, belum tentu baginya. Bahwa menjadi mahasiswa dengan waktu yang fleksibel adalah keuntungan, merupakan pendapat saya, bukan pendapatnya. Ego. Saya tahu saya tak sepenuhnya salah, namun saya jelas tidak benar. Jika saya ingin mendengar pendapatnya, saya harus dapat menekan ego saya. 

Saya jelas salah, saya meminta maaf padanya, mengakui keegoisan saya. Memutuskan untuk menunda urusan s2 saya, fokus mencari pekerjaan. Saya tidak tahu apakah saya telah mengacaukan hubungan saya dengan dia. Saya tidak tahu apakah dia akan menjawab chat saya. Saya pun tak akan memaksanya. Bersyukur diamnya menyadarkan saya. Sekarang saatnya saya juga diam, terlalu banyak kekacauan yang telah saya buat, saya harus diam dan tenang.

Friday, July 29, 2016

Makin Jatuh Cinta

Berawal saat meminta saya menemaninya mengurus urusan di bank. Sebenarnya ini urusan yang sudah harus diurus lama, namun ternyata dia mengulur-ngulurnya. Oleh karenanya, saya mengiyakan permintaannya, kami pun segera pergi ke bank cabang setempat. 

Sampai di bank cabang, ternyata urusan yang mau diurus dia tak bisa diproses di sana, kami diarahkan ke bank cabang bank lain yang notabenenya lebih besar. Kami kesana naik bajaj ala negara negeri bambu! Hal ini karna saya menatap kendaraan itu agak lama, dia kemudian spontan mengajak saya menaikinya. Well, bajaj ini gak seberisik bajaj Jakarta, karna pada dasarnya bermesin motor. 

Sampai di bank cabang kedua ini, ternyata juga tak dapat diproses. Kami kembali dioper ke bank yang lebih besar. Kali ini kami kesana naik ojek! Hahaha. Jenis kendaraan yang laing saya hindari sebenarnya, namun karna mengejar waktu ya saya mengiyakan. 

Dan benar saja, bank ini lebih besar, dengan costumer service yang lebih banyak. Dia segera mendaftar, mengurus urusan yang dia perlukan. Saya mengambil posisi paling nyaman, di dekat ac. Kira-kira satu setengah jam berlalu, urusan di bank selesai, persis sebelum bank tersebut ditutup. Kami pun mulai berjalan kembali ke asrama. 

Namun, di dekat bangunan bank tersebut terdapat supermarket ternama yang cukup besar. Dia mengidekan saya untuk mampir sebentar, saya mengiyakan. Kami langsung asik berkeliling mengitari rak-rak di dalam sana. Niatnya hanya mampir, tapi berujung belanja makanan. Pasalnya supermarket tersebut cukup besar, banyak barang yang tak bisa saya temui di tempat lain, dan juga perut saya mulai lapar. Kami berakhir dengan belanjaan yang cukup banyak. yang dikeesokan harinya saya sadari bahwa saya hanya buang-buang uang.

Saat keluar supermarket, saya sadar bahwa saya familiar dengan jalan kecil di dekatnya. Memiliki pemikiran yang sama, kami akhirnya berjalan kaki menuju asrama. Sebenarnya jaraknya tidak dekat, hanya saja terasa lebih menyenangkan jika ditempuh berjalan kaki. Sesekali mampir membeli jajanan yang belum pernah saya atau dia coba, kemudian mencicipinya. Mengobrol tentang apa saja yang kami lihat. Saat itu saya merasa semakin jatuh cinta, karna kami dapat melakukan sesuatu yang sederhana tanpa merasa canggung satu sama lain. Ya, saya bahagia.

Jatuh Sakit

Beberapa hari setelah status baru dengannya, saya jatuh sakit. Awalnya hanya merasa kelelahan yang luar biasa. Namun, sepertinya karna tidak istirahat dan makan dengan baik, suhu tubuh saya kemudian meningkat. Saya demam.

Demam semulanya wajar. Oleh karenanya, saya masih merasa belum perlu meminum obat, pasalnya saya tidak suka efek samping obat, sering kebelakang, pahit di lidah, dan tubuh yang mudah berkeringat. Dan seringnya minum obat, dapat meningkatkan kekebalan tubuh kita pada obat itu sendiri, yang kemudian perlunya penambahan dosis obat. Itu berarti semakin sering kita minum obat, semakin bertambah dosis yang kita perlukan dikemudian hari.

Saya tidak minum obat awalnya, dan tidak menjaga kesehatan makanan saya juga, yang kemudian mengakibatkan badan saya semakin drop. Dia mulai menceramahi saya dan mencekoki saya dengan obat penurun panas. Saya yang sebelumnya menentang, sudah tak dapat menghiraukannya, mau tak mau saya minum obat juga. Ini obat dari negaranya. Obatnya bereaksi cepat, badan saya kemudian sama sekali tak terasa panas, malahan dingin seperti badan yang bangun pagi di musim dingin. Hebat sekali obat itu, pikir saya. Oleh karena nya, saya fikir saya tak perlu khawatir lagi, saya menjalani rutinitas seperti biasanya.

Esok paginya, dia ada urusan di kota ayahnya. Meninggalkan saya beberapa obat, dia kemudian pergi dan saya istirahat. Namun, karna saya tinggal sendiri dan tidak mau merepotkan orang lain, saya pergi keluar untuk membeli makan siang. Yang berujung sedikit jalan-jalan ke mini market. Setelah makan siang, beberapa teman saya datang menjenguk, kami mengobrol dan bercanda sebentar hingga petang.

Saat menjelang malam, saya merasa aneh dengan tubuh saya, awalnya saya merasa lemas. Maka saya putuskan untuk berbaring, istirahat. Namun, karna efek samping obat, istirahat saya terganggu karna harus ke kamar mandi. Menjelang tengah malam, badan saya semakin lemas disertai demam tinggi, perlahan saya tak sanggup untuk melakukan apapun. Teringkuh di ranjang, kepala saya sakit bukan kepalang, badan saya gemetar berkeringat, nafas saya mulai sedikit sesak, saat itu saya benar-benar merasa tersiksa, tak ada apapun yang bisa saya lakukan, hanya dapat berdoa pada Tuhan yang maha kuasa, meminta pertolongannya.

Lewat tengah malam, saya tersadar oleh dia yang terkejut dengan keadaan saya. Panas tinggi, terlalu tinggi hingga dia sesegera mungkin mencari obat untuk saya. Dia pergi ke kamarnya, mengambil obat dan kompres penurun panas. Namun, demam saya tak kunjung mereda, maka dia kembali keluar mencari es batu. Kembali dengan es batu yang diselimuti es, dia meletakannya di bawah kepala saya. Perlahan demam saya turun, saya tertidur.

Sehari setelahnya, saya baru tahu bahwa es batu tersebut dia congkel dari freezer lemari esnya. Yang buruknya, saat mencongkel tersebut dia tak hati-hati, kemudian malah merusak lemari es itu sendiri. Saya sungguh merasa tak enak hati, pasalnya dia mencongkel es tersebut untuk saya. Karna keadaan saya semalam, saya seharian di kamar, istirahat. Dia pergi bermain bersama temannya, kembali ke kamar saya pada malam hari dengan semangkuk bubur buatannya. Romantis? tidak juga, dia datang kelewat malam yang kemudian membuat saya tak begitu selera untuk makan. hahaha.

Thursday, July 28, 2016

Hari Pertama Status Baru

Dia bermalam di kamar saya, kami tidur sampai siang hari. Tak ada yang terjadi, hanya tidur, tidur pulas seperti bayi, tak ada kekhawatiran apapun, semua terasa sempurna. 

Kami terbangun karna lapar. Entah apa yang dia fikirkan, dia langsung mengajak saya keluar untuk makan. Saat saya tanya kemana tujuan kami, dia menjawab masih berfikir sambil terus berjalan. Yang kemudian saya temukan sebagai keunikan darinya, terkadang dia spontanitas tanpa rencana, dan ya saya menyukai hal ini, walau kadang membuat kesal. hahaha.

Kami berjalan hingga sekitar 10-15 menit, sebuah kawasan restoran yang belum pernah saya lewati dan perhatikan sebelumnya. Di sana berderet beberapa restoran yang cukup besar dengan masakan beragam. Kami masuk ke salah satu restoran yang menyajikan makanan negaranya, Jepang. Hampir tidak ada pengunjung di restoran itu, hanya sekitar 2-3 orang selain kami. Setelah memesan makanan, kami menunggu di lantai dua.

Sebenarnya saya sedikit kesal waktu itu, pasalnya saya ingin makan makanan lain. Selain itu, harga makanan disana cukup mahal jika dihitung dari pandangan seorang pelajar. Hanya saja rasa penasaran saya lebih besar, penasaran dengan kelakuan pria di depan saya itu. Makanan kami datang cukup lama saat itu, saya memesan omelette rice dan dia memesan bento tonkatsu. Well, upset again, makanan saya berwadah mangkuk dan terlihat lebih mirip tamago-buri dari pada omelette rice (belakangan saya tahu bahwa memang ada omelette rice seperti itu di Jepang, hanya saja seharusnya menggunakan piring bukan mangkuk). Dia? dia beitu senang saat makanannya datang. Lucunya tiba-tiba dia meminta saya memfotonya yang sedang makan, hahaha. Belakangan saya tahu bahwa dia suka makanan katsu, walau dia mengaku suka semua makanan.

Di tengah-tengah acara makan kami, hujan turun sangat lebat. Saya pribadi sebenarnya tak memusingkan hal itu, toh kami sedang makan dan bisa menunggu sampai hujan reda, tak terburu-buru. Setelah selesai makan, hujan tak menunjukan tanda-tanda berhenti. Dia tiba-tiba bertanya bagaimana kalau dia meminta temannya datang dengan payung lalu kita pergi bermain bersama, saya mengiyakan. 

Temannya datang, wanita, lebih muda dari pada saya, sudah dekat dengan dia dari tahun sebelumnya. Intinya tak ada alasan saya cemburu pada wanita ini. Kami pergi ke karaoke bersama, well it's totally strange for me! Pasalnya saya tak dekat dengan temannya ini, dan tiba-tiba saja karaoke bersama?! It was one of my wonderful days! hahaha.

Wednesday, July 27, 2016

Status Baru

Sudah satu setangah bulan kami dekat. Makan siang dan malam bersama, pergi belanja bersama, pergi kencan, karaoke. Hari-hari saya terasa begitu menyenangkan bersamanya. Well, we are young, wild, and free~!! Haha. Entah berapa kilogram yang kemudian tertimbun di tubuh saya, hahaha, lantaran kami tak pernah sekalipun lupa makan dan sering jajan. Sempat saya sakit, dan dia memasakan bubur untuk saya. Walau sebenarnya tak berpengaruh banyak, karna dia membuat kamar saya berantakan.

Bulan kelima, beberapa hari sebelum ulang tahunnya, dia sempat bertingkah agak aneh dengan bertanya hubungan kami dan sebagainya. Saya menjawabnya santai, bahwa kami teman baik, toh memang tak ada pernyataan khusus darinya. Saya pribadi berujar jujur bahwa saya butuh kekasih yang bisa diajak berdiskusi, bukan hanya bersenang-senang. Yang tau bagaimana mengartikan kebersamaan. Dia seolah tak senang, tapi berusaha menutupinya, hanya tersenyum alakadarnya. Saya tidak peduli, toh memang berat jika kami mau melanjutkan. Maka saya bersikap bebas seperti biasanya.

Dia rupanya memikirkan hal tersebut serius, pernah suatu kali dia bertanya "你要不要嫁给我?" --Do you want marry me? Saya menganggapnya main-main, atau lontaran pertanyaan tanpa berfikir, ya tentu saja menjawab tanpa berfikir, tak lebih dari satu detik saya membalas "不要!"-- Nope! Hal paling terjahat yang pernah saya lakukan kepadanya. Ya Tuhan, saya tak tahu bahwa dia benar-benar serius dengan pertanyaan, tolong maafkan perkataan saya. 

Sekitar dua hari sebelum ulang tahunnya, temannya dari kota lain datang berkunjung, menginap di kamar dia. Awalnya saya menolak ikut main bersama, namun ternyata saat tidur saya mimpi buruk dan terbangun sendiri. Merasa ketakutan dan parno, akhirnya saya memilih pergi bermain ke kamarnya, paling tidak disana ramai. Temannya berasal dari negara yang sama dengan saya, oleh karena itu kami mudah akrab. Keesokan harinya, saya baru tahu bahwa dia tidak senang saya terlalu akrab pada pria lain, walaupun temannya sendiri. 

Di hari ulang tahunnya, saya dan teman-teman memberikan kejutan untuknya, membawa kue ulang tahun dan minuman mahal. Saya yang membawa kue ulang tahunnya! Yeay! I know the happy feeling when someone that you adore so much became happy, it's totally awesome! Malam itu, kami berpesta dikamarnya hingga dini hari. Karena ini harinya, saya membiarkannya menjadi bintang diantara teman-temannya, berupaya memanjakannya dengan hanya berbicara dan tertawa padanya. Dia bahagia, saya bahagia.

Malam harinya, ada kontes menyanyi di kampus kami, dan teman saya menjadi salah satu kontestannya. Maka, saya sibuk dengan teman-teman yang lain menjadi pendukungnya. Dia dan teman-temannya melanjutkan kesenangan mereka. Saya sebenarnya bersyukur teman dari luar kotanya datang, toh jadi bisa menemaninya, karna saya tak mungkin melewatkan kontes menyanyi ini, apa kata teman-teman saya nanti. Tak disangka dia datang ketempat kontes di tengah acara, tiba-tiba sudah duduk disebelah saya. Membisikan saya untuk datang ke tempat pangang-memanggang langganan kami, dia mau mentraktir teman-temannya disana. Saya mengiyakan, dan datang kesana setelah acara. 

Saya sebenarnya agak merasa aneh dengan situasi disana, saat saya datang salah satu temannya memberitahukan bahwa dia membelikan saya burger, menyerahkannya begitu saja pada saya. Saya hanya mengangguk, saya sedang tak ingin makan burger saat itu. Alhasil teman saya lah yang memakannya, di depannya dan atas persetujuan saya. Ah, saya ingat bahwa saat itu mood saya pun sedang tidak baik, karna telepon genggam saya error, alhasil selama acara saya merasa ingin cepat-cepat kembali ke asrama, memperbaikinya. 

Well, acara berakhir berantakan, ada perseteruan antar pasangan, teman kami, yang untungnya berakhir damai. Setelah semua kembali ke kamar masing-masing, dia ke kamar saya, kami kembali berbincang. Dengan acara yang begitu padat, saya sedikit mengantuk waktu itu, saat dia bertanya, "你是我女友吗?"--are you my girlfriend? Dalam hati saya bertanya, kapan saya jadi pacarnya? lalu menjawab padanya, "我是你女友吗?"--am I your girlfriend? Dia kembali bertanya, "我是你男友吗?"--am I your boyfriend? Kesal, merasa tak penting dengan obrolan ping-pong macam ini, saya bertanya, "男女朋友是什么?"--What the mean of boyfriend girlfriend relationship? Dia berfikir sebentar, lalu menjawab, "简单说,我是你的 你是我的。"--It's simply to say that I'm your You're mine. Saya terdiam, bingung mau bicara apa, dan saya perempuan, saya tak mau lebih dulu menyatakan, jadi saya malah kembali bertanya, "我是你女友吗?"--am I your girlfriend? Dia terdiam sebentar, "是,你是我女友。"--Yes, you are.

Tuesday, July 26, 2016

Tanpa Status

Sejak kecelakaan itu, kedekatan saya dan teman-teman saya mulai berbeda. Saya memang orang yang sensitif, yang kemudian membuat saya memutuskan untuk lebih mandiri. Saya juga berusaha menjauh dari dia, saya sadar dia membuat saya bermasalah dengan teman-teman saya. 

Beberapa hari saya fokuskan untuk belajar. Namun, semakin saya berusaha menjauh, semakin saya merasa kesepian, semakin saya membutuhkan seseorang yang mengerti saya. Bukan teman yang hanya dekat, lebih dari sekedar teman. Dia datang disaat yang tepat, saat saya butuh seseorang untuk mendengarkan. Saat saya tak berkawan, saat saya butuh membangun kebahagiaan saya sendiri.

Kami kembali pergi ke restoran barat yang sama dengan teman-teman yang sedikit berbeda (sebagian sama dan sebagian tidak). Bermain permainan yang sama dengan sebelumnya, kami kembali berciuman, tapi semua saya anggap hanya permainan. Toh tak hanya kami yang berciuman, untuk apa dibesar-besarkan. Maka, disuatu saat saya mendorong teman yang baru dekat dengan saya untuk menciumnya. Saya ingin dia tak serius atas kami, saya ingin dia menyerah duluan, karna saya tahu saya akan sulit menolak dia. Saya lupa mereka benar-benar bercuman atau tidak, tapi sepertinya iya. 

Setelah kembali ke asrama, saya dan dia bersama hingga pagi datang. Hanya berbincang, tak lebih. Tapi saya tahu saya luluh waktu itu, banyak hal yang kami bicarakan membuat saya sadar dia sedikit baik. Baik dan menyenangkan. Lusanya kami kembali ke tempat yang sama. Dan dia merasa sudah dekat dengan saya, mengambil telepon genggam saya, berusaha memeriksanya, yang kemudian gagal karna maaf saya lebih cerdik. hahaha.

Saya sedikit canggung saat itu, karna saya sulit dekat dengan seseorang begitu cepat. Tapi dia memperlihatkannya seakan itu hal paling mudah. Saya berusaha dekat dengan orang lain, tapi kadang saya memanfaatkannya untuk melindungi saya. Waktu berlalu dengan cepat, kami pindah ke klub setelahnya. Menolak untuk memikirkan semua hal, saya memilih bersenang-senang. Saya bermalam di tempat teman saya. Belum yakin untuk lebih dekat dengannya. Kadang saya merasa takut, dia terlalu memikat.

Malam setelahnya, dia menghubungi saya di malam hari. Saya terlanjur mengantuk, jadi menolaknya saat itu juga. Esoknya, saya merasa bersalah, datang ke tempatnya untuk meminta maaf, yang kemudian berkelanjutan mengobrol hingga keesokhariannya. Entah apa yang kami bicarakan, mengalir begitu saja, semua terasa terlalu nyaman untuk dilontarkan. Ini awal kami benar-benar berbagi, saya mengenalnya sebagai pria baik disini, sebagai orang yang berkharisma, sebagai seorang yang saya nanti (mungkin). Siangnya kami pergi bersama temannya, makan siang bersama. 

Saya sebenarnya mencoba membatasi diri dengannya, namun beberapa kejadian dengan teman-teman saya malah membuat kami semakin dekat. Pasalnya dia orang yang mau mendengarkan keluhan dan menerima saya, serta menenangkan dan mencoba membuat saya senang. Hal itu membuat saya nyaman didekatnya. Pernah saya berharap bahwa dia secepatnya meresmikan hubungan kami, namun perlahan saya urungkan keinginan itu. Mencoba berfikit rasional, bahwa kami berasal dari budaya, bangsa dan nasionalisme yang berbeda, kami akan dipisahkan oleh waktu dan jarak. Oleh karenanya saya berupaya sebaik mungkin memanfaatkan waktu yang ada, dia bahagia, saya bahagia, membuat kenangan yang indah.

Monday, July 25, 2016

Kecelakaan Beruntun

Saya menganggap dia teman, tidak lebih. Namun, saya mengakui ada kesenangan setelah berbincang dengannya, perasaan lega, perasaan menemukan seseorang yang cocok dalam berbicara, menyenangkan. 

Tak lama, kami dan teman-teman pergi bersama ke sebuah restoran barat. Makan, minum bir dan bermain game, saya terbawa suasana hingga bermain lepas dan bebas tanpa berfikir panjang. Mencium dan dicium di pipi ole teman lainnya, belakangan mendapati diri sendiri menciumnya di bibir. Ya, mencium dia di bibir di tengah teman-teman lainnya. I must be drunk at that time. Dia mendorong saya menjauh, yang kemudian saya sedikit sadar. Namun, saya ingat bahwa teman-teman saya melihat kami. Malu setengah mati, saya segera mengontrol diri saya.

Saat perjalanan pulang, saya menghindari dia. Berjalan lebh cepat atau mengobrol dengan teman yang lain, sama sekali tidak mencari keberadaan dia. Sampai di asrama, saya berupaya membantu teman saya yang mabuk, mengantarkannya membeli ice cream, lalu kembali ke asrama. Dia berusaha mengikuti saya, merangkul pundak saya sambil berjalan yang secepatnya saya tolak. Well, he was reject me before! How dare him try to closer to me again?! Saya tak suka penolakan, gengsi saya tinggi, maka saya berusaha keras menjauhinya. 

Dia terus mengikuti hingga saya berusaha kembali ke kamar. Saya fikir dia telah menyerah, toh saya tinggal masuk ke kamar saya. Namun, entah bagaimana kami berciuman di lorong, tepat di depan kamar saya. And it much closer than i mean to be, and more than a while. Saya ingat setelahnya menyadari bahwa teman-teman menatap kami di ujung lorong yang berbeda. Malu setengah mati, saya masuk ke kamar saya, walaupun dia mengajak saya keluar. I really want to go at that time, but my mind tell me not to do. It will be more than a mistake. I decided not to, and say good bye to him.

Saya tak tahu apa yang terjadi kemudian di luar sana, i sleep like a baby right after.

Sunday, July 24, 2016

Saya dan Dia hanya Teman

Kembali saat saya baru mengenalnya.

Saat itu saya hanya melihatnya sekilas dari dapur umum di asrama kami. Ada perasaan yang tak biasa saat melihatnya, namun saya acuhkan, karna mengenalnyapun saya tidak. Namun kemudian kami menjadi kenalan yang cukup dekat, belum sebagai teman. Karna saya merasa tak pernah berbicara atau mengobrol dengannya sebagai teman. Hubungan kami hanya sebatas, saya mengenal dia, dia mengenal saya, kita bermain bersama teman-teman lainnya.

Dia menghubungi saya beberapa kali, namun untuk menjaga perasaan teman saya lainnya, tak sedikitmu maksud saya untuk mendekatinya. Hanya membalas sekenanya, dan saya menyesal sekarang karenanya. Dia kemudian menjauh, dikabarkan dekat dengan gadis lainnya.

Saya mulai berteman dengannya, saat teman saya yang lainnya memiliki hubungan dekat dengan dia. Dekat, sangat dekat. Cemburu? tidak. Dia belum siapa-siapa untuk saya. Saat itu situasi teman-teman tidak baik, dan saya memilih netral, berteman dengan siapa saja. 

Semester kedua dimulai, teman saya yang dekat denganya sudah meninggalkan sekolah. Saya pun merasa kehilangan teman saya itu. Beberapa teman yang lain lebih suka berkumpul di kamar, mengobrol sampai malam. Kamar saya agak jauh, dan melalukan obrolan dengan orang yang sama terus menerus, ujungnya membosankan. Saya sempat dekat dengan pria lain, asal Thailand, pergi pulang sekolah bersama dan makan bersama, bahkan ulang tahun kami pun sama. Namun dia punya pacar, dan saya tak mengganggunya. Semester itu, ketika ulang tahunnya, pacarnya datang dan menetap sampai akhir semester. 

Beberapa hari setelah ulang tahun, saya merasa sangat bosan. Dia mengajak saya dan teman-teman mengobrol diluar. Saya mengiyakan setelah disetujui yang lainnya. Namun, tiba-tiba mereka asik sendiri dengan rencana liburan mereka ke Shanghai. Terlanjur mengiyakan, saya pergi sendiri ke tempat dia dan teman jepangnya di luar, ikut bergabung bersama mereka. Tak disangka temannya hanya mau kembali ke asrama, dan dia mengajak untuk kami berdua melanjutkan obrolan. Kamipun mengobrol, pertama kalinya saya mengobrol dengannya, berdua, tanpa teman-teman yang biasa pergi main bersama kami. Banyak hal yang kami bicarakan. Saya bahkan tak mengerti bagaimana saya bisa bertahan mengobrol dengannya sampai hampir pagi! hahaha