Monday, August 15, 2016

Lelah Berfikir Tentang Kami, Saya Ingin Diri Saya

Hari ini saya baru saja menonton film "How To Be Single". Film Amerika ber-genre drama dan komedi. Mengisahkan seorang wanita bernama Alice (Dakota Johnson) berusaha mencari jadi diri, sehingga memutuskan untuk istirahat sejenak dari hubungan romantisme-nya bersama Josh (Nicholas Braun) dan pindah ke New York. Bekerja di New York, Alice berkenalan dengan teman kerjanya Robin (Rebel Wilson), yang kemudian mengajarkan bagaimana menjadi lajang. Mendapatkan minuman gratis dan bertemu banyak pria. Alice sadar bahwa hal tersebut tak sesuai dengannya, dia berusaha kembali pada Josh, namun Josh telah bertemu wanita lain. Dan dia harus belajar menjadi lajang sesungguhnya.

Film ini menyentuh saya, well i'm not single anymore, and i miss to be really truly single. It doesn't mean that being in relationship is boring, but couldn't as free-able as single indeed. Di akhir kisah, film ini mengajarkan saya bahwa menjadi lajang adalah kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang banyak hal, terutama hal-hal yang diri sendiri inginkan, untuk menjadi berani dalam kesendirian, menjadi kuat, untuk menikmati setiap waktu yang dimiliki menjadikan diri lebih bernilai. Hal ini membuat saya berfikir tentang masa depan yang saya inginkan, tentang menjadi diri saya sendiri.
Bukan berarti saya tak menginginkan dia, saya tetap menginginkannya, hanya saja saya merasa januh. Saya tak mau terpuruk melakukan pekerjaan yang tidak saya sukai, saya ingin tetap merencanakan masa depan saya. Ya, bukan kami, karna dia pasti memiliki keinginnnya sendiri. Dan hal tersebut diluar kuasa saya. Ehm, well i'm planning~

Thursday, August 4, 2016

Diam Tanda Dia Perlu Waktu

Setelah pesan saya di hari selasa dan jumat hanya sekedar dibaca tanpa dibalas, saya kembali mengirim pesan pada hari sabtu dan minggu, yang kemudian dibacapun tidak. Kesal? Sedikit. Sedih? Ya, pasti. Namun, saya sudah berusaha, jika memang dia tidak menjawab, saya bisa apa walau sebenarnya perih karna saya sudah merencanakan pergi ke negaranya.

Di hari rabu, saya akhirnya bercerita pada sahabat saya. Ya, saya sedikit tenang dengan menceritakan kegelisahan saya. mencoba sekuat tenaga untuk membatasi diri saya agar tak kembali mengirim pesan padanya. Namun, sore hari itu dia membalas pesan saya. Emosi pertama kali saat melihat pesannya adalah perasaan kesal. Kesal karena dia baru membalas, kesal karena dia membuat saya menunggu. 

Saya ingin mendiamkan pesannya, tak ingin menghiraukan dia juga. Namun, sahabat saya mendorong saya untuk tidak melakukanya, dia meminta saya untuk paling tidak membaca pesan tersebut. Saya mendengarkan nasihatnya, dan membaca pesan darinya. Isinya yang juga saya utarakan pada sahabat saya, adalah pertanyaan mengenai masa depan kami. Sahabat saya menjelaskan, bahwa sebenarnya dia memikirkan hubungan kami dan saya seharusnya bersyukur. Dia diam untuk menenangkan dirinya dan membalas pesan saya saat dia tenang. Saya hanya mengiyakan. Dia sebenarnya sudah beberapa kali menghilang saat kami bertengkar, terutama saat dia marah akan sesuatu. Oleh karenanya, sepertinya yang dikatakan sahabat saya tidaklah salah dan saya harus mulai mengingat kebiasaannya ini.

Pesan-pesan yang dikirimkannya benar-benar terasa serius, membuatnya nampak bahwa dia mengatakannya dengan nada tinggi. Bukan berarti marah, hanya terasa galak, memuat saya tidak suka dan hendak naik darah. Kesal dibuatnya, padahal hanya beberapa pesan.

Saya sebenarnya tak ingin membalasnya dahulu, sambil memikirkan jawaban penjelasan panjang alasan saya. Namun, setelah beberapa saat, saya tau itu sia-sia. Saya tak bisa melawan nada tingginya dengan alasan saya yang juga mungkin bernada tinggi. Saya harus tenang, sabar. Saya memutuskan untuk tidak membalas pesannya hari itu. Esok paginya, saya memikirkan jawaban lain. Ya, kami tidak bisa bertengkar melalui pesan-pesan sambil terus menghilang. Hanya membuat sakit hati di kedua pihak, dan sakit jasmani pada diri saya. Perlahan, saya hilangkan amarah  dan kesal saya padanya, berfikir pada rasa sayang saya. Siangnya saya mengirimkan pesan lembut untuk membicarakan masa depan kami saat kami bertemu nanti. Di tanggal 25 bulan ini.