Setelah pesan saya di hari selasa dan jumat hanya sekedar dibaca tanpa dibalas, saya kembali mengirim pesan pada hari sabtu dan minggu, yang kemudian dibacapun tidak. Kesal? Sedikit. Sedih? Ya, pasti. Namun, saya sudah berusaha, jika memang dia tidak menjawab, saya bisa apa walau sebenarnya perih karna saya sudah merencanakan pergi ke negaranya.
Di hari rabu, saya akhirnya bercerita pada sahabat saya. Ya, saya sedikit tenang dengan menceritakan kegelisahan saya. mencoba sekuat tenaga untuk membatasi diri saya agar tak kembali mengirim pesan padanya. Namun, sore hari itu dia membalas pesan saya. Emosi pertama kali saat melihat pesannya adalah perasaan kesal. Kesal karena dia baru membalas, kesal karena dia membuat saya menunggu.
Saya ingin mendiamkan pesannya, tak ingin menghiraukan dia juga. Namun, sahabat saya mendorong saya untuk tidak melakukanya, dia meminta saya untuk paling tidak membaca pesan tersebut. Saya mendengarkan nasihatnya, dan membaca pesan darinya. Isinya yang juga saya utarakan pada sahabat saya, adalah pertanyaan mengenai masa depan kami. Sahabat saya menjelaskan, bahwa sebenarnya dia memikirkan hubungan kami dan saya seharusnya bersyukur. Dia diam untuk menenangkan dirinya dan membalas pesan saya saat dia tenang. Saya hanya mengiyakan. Dia sebenarnya sudah beberapa kali menghilang saat kami bertengkar, terutama saat dia marah akan sesuatu. Oleh karenanya, sepertinya yang dikatakan sahabat saya tidaklah salah dan saya harus mulai mengingat kebiasaannya ini.
Pesan-pesan yang dikirimkannya benar-benar terasa serius, membuatnya nampak bahwa dia mengatakannya dengan nada tinggi. Bukan berarti marah, hanya terasa galak, memuat saya tidak suka dan hendak naik darah. Kesal dibuatnya, padahal hanya beberapa pesan.
Saya sebenarnya tak ingin membalasnya dahulu, sambil memikirkan jawaban penjelasan panjang alasan saya. Namun, setelah beberapa saat, saya tau itu sia-sia. Saya tak bisa melawan nada tingginya dengan alasan saya yang juga mungkin bernada tinggi. Saya harus tenang, sabar. Saya memutuskan untuk tidak membalas pesannya hari itu. Esok paginya, saya memikirkan jawaban lain. Ya, kami tidak bisa bertengkar melalui pesan-pesan sambil terus menghilang. Hanya membuat sakit hati di kedua pihak, dan sakit jasmani pada diri saya. Perlahan, saya hilangkan amarah dan kesal saya padanya, berfikir pada rasa sayang saya. Siangnya saya mengirimkan pesan lembut untuk membicarakan masa depan kami saat kami bertemu nanti. Di tanggal 25 bulan ini.
Saya sebenarnya tak ingin membalasnya dahulu, sambil memikirkan jawaban penjelasan panjang alasan saya. Namun, setelah beberapa saat, saya tau itu sia-sia. Saya tak bisa melawan nada tingginya dengan alasan saya yang juga mungkin bernada tinggi. Saya harus tenang, sabar. Saya memutuskan untuk tidak membalas pesannya hari itu. Esok paginya, saya memikirkan jawaban lain. Ya, kami tidak bisa bertengkar melalui pesan-pesan sambil terus menghilang. Hanya membuat sakit hati di kedua pihak, dan sakit jasmani pada diri saya. Perlahan, saya hilangkan amarah dan kesal saya padanya, berfikir pada rasa sayang saya. Siangnya saya mengirimkan pesan lembut untuk membicarakan masa depan kami saat kami bertemu nanti. Di tanggal 25 bulan ini.
No comments:
Post a Comment