Hal yang selalu menghalangi kita untuk dapat mengerti orang lain. Semua orang akan merasa bahwa dirinya telah berusaha sebaik mungkin untuk pasangan mereka, yang tak jarang hanyalah perasaan mereka, bukan perasaan pasangan. Kita sering berbincang dengan pasangan, namun sebanyak apa yang kita benar-benar dengarkan? Ataukah hanya membalas apa yang dia katakan?
Saya berusaha menekan ego saya. Dalam berhubungan harus ada kata saling, saling memeluk, saling mencumbu, saling memandang, saling pengertian, dll. Hal ini terkadang kita lupakan.
Saya dan dia telah berencana menikah, namun karena jarak dua negara harus ditempuh oleh pesawat selama 7-8 jam, maka kami sepakat untuk membicarakannya saat kami bertemu bulan depan. Mengapa tak dibicarakan lewat chat, video call, atau free call basis internet? Karna dia sangat sibuk, sangat-sangat sibuk, dan juga biaya internet di negaranya tidaklah murah. Kami mungkin memang saling cinta, tapi kami berusaha realistis dan tidak berlebihan selama masa pacaran ini.
Sejujurnya saya memikirkan banyak hal mengenai kemungkinan pernikahan kami, pasalnya kami memiliki nasionalisme, kebudayaan, dan bahasa yang berbeda. Tak jarang saya mempertanyakan kecocokan kami berdasarkan perbedaan tersebut, serta masa depan kami, yang kemudian muncul keraguan. Semuanya ditepis oleh karakter dan sikapnya kepada saya. Ya, kami berusaha saling percaya, saling bicara dan saling mendengar. Sulit, namun tetap berusaha.
Akhir-akhir ini hubungan komunikasi kami tidak baik, dia sibuk bekerja. Hal tersebut membuatnya lelah, hingga responnya terkadang terasa dingin dan bosan. Kecewa dengan hal ini, saya pun akhirnya membalas sekenanya. Mencoba memahaminya yang sibuk dengan tidak menggangunya dengan pertanyaan-pertanyaan sepele, saya berusaha untuk mandiri.
Tak jarang kemudian saya berangan, merencanakan masa depan kami berdua, memikirkan serius apa yang saya inginkan, keluarga ideal yang baik untuk kami berdua. Terfikirlah oleh saya untuk belajar lebih giat bahasa negeri tirai bambu, pasalnya kami menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi. Sehingga, saya merasa wajar jika saya yang nantinya sebagai ibu harus belajar lebih dalam bahasa tersebut. Didahului berbicara pada pasangan saya mengenai niat itu, kemudian saya mendaftar beasiswa s2 di sana.
Semua berita terbaru mengenai beasiswa tersebut selalu saya kabarkan padanya, hingga akhirnya surat universitas sampai di rumah saya. Saya foto dan dikirim ke dia. Awalnya tak ada respon yang berarti. Beberapa hari setelahnya, responnya mulai memendek dan perhatiannya terasa berkurang. Saya kemudian bertanya padanya masih adakah niatnya menikah dengan saya? Dia menjawab bahwa sayalah yang tidak ada niat menikah dengannya. Saya terteguh, membalas perlahan, berdasarkan apa dirinya berbicara demikian? Dia menjawab bahwa saya pergi selama dua tahun di negeri orang, bagaimana kami dapat merencanakan pernikahan kami? Sedangkan kami akan terus menua?
Hal ini membingungkan saya, saya pergi untuk belajar dan masa depan keluarga kami, saya juga sudah mengutarakan rencana saya dengan baik sejak pertama kali saya mendaftar, dan bukankah menjadi mahasiswa lebih bebas? Saya memiliki waktu cukup untuk belajar maupun merencanakan pernikahan, tak seperti pegawai kantoran yang terikat aturan jam kantor dan jam masuk. Ya, saya merasa bahwa apa yang telah saya lakukan semua demi kami berdua, saya merasa bahwa dia seharusnya percaya pada saya. Maka saya kembali menjelaskan itu semua dan bertanya apakah dia percaya pada saya?
Hal ini membingungkan saya, saya pergi untuk belajar dan masa depan keluarga kami, saya juga sudah mengutarakan rencana saya dengan baik sejak pertama kali saya mendaftar, dan bukankah menjadi mahasiswa lebih bebas? Saya memiliki waktu cukup untuk belajar maupun merencanakan pernikahan, tak seperti pegawai kantoran yang terikat aturan jam kantor dan jam masuk. Ya, saya merasa bahwa apa yang telah saya lakukan semua demi kami berdua, saya merasa bahwa dia seharusnya percaya pada saya. Maka saya kembali menjelaskan itu semua dan bertanya apakah dia percaya pada saya?
Dia tidak menjawab. Ya, saya sabar menunggu jawaban darinya. Satu hari, dua hari, tiga hari. Saya perlahan mulai gelisah, mencoba berfikir ulang, mencoba mencari kesalahan, namun masih tak menemukan. Empat hari. Dia masih tak menjawab, saya mengirimkannya foto visa ke negaranya yang baru usai saya urus, memberinya tanda bahwa saya secepatnya akan kesana, jadi mohonlah untuk menjawab pertanyaan saya. Dia masih tak menjawab.
Hari kelima. Saya keluar bertemu teman-teman lama saya. Bertukar cerita, saya pun menceritakan masalah saya. Kami hanya sekedar sharing, tak pernah saling menghakimi apa yang harus diperbuat atau harus bagaimana. Namun, dari sanalah saya menyadari. Ego.
Saya menyadari bahwa pendapat saya pergi s2 untuk kebaikan bersama adalah hanya pendapat saya, bukan pendapatnya. Bahwa dua tahun masa yang singkat adalah bagi saya, belum tentu baginya. Bahwa menjadi mahasiswa dengan waktu yang fleksibel adalah keuntungan, merupakan pendapat saya, bukan pendapatnya. Ego. Saya tahu saya tak sepenuhnya salah, namun saya jelas tidak benar. Jika saya ingin mendengar pendapatnya, saya harus dapat menekan ego saya.
Saya jelas salah, saya meminta maaf padanya, mengakui keegoisan saya. Memutuskan untuk menunda urusan s2 saya, fokus mencari pekerjaan. Saya tidak tahu apakah saya telah mengacaukan hubungan saya dengan dia. Saya tidak tahu apakah dia akan menjawab chat saya. Saya pun tak akan memaksanya. Bersyukur diamnya menyadarkan saya. Sekarang saatnya saya juga diam, terlalu banyak kekacauan yang telah saya buat, saya harus diam dan tenang.
No comments:
Post a Comment