Tuesday, July 26, 2016

Tanpa Status

Sejak kecelakaan itu, kedekatan saya dan teman-teman saya mulai berbeda. Saya memang orang yang sensitif, yang kemudian membuat saya memutuskan untuk lebih mandiri. Saya juga berusaha menjauh dari dia, saya sadar dia membuat saya bermasalah dengan teman-teman saya. 

Beberapa hari saya fokuskan untuk belajar. Namun, semakin saya berusaha menjauh, semakin saya merasa kesepian, semakin saya membutuhkan seseorang yang mengerti saya. Bukan teman yang hanya dekat, lebih dari sekedar teman. Dia datang disaat yang tepat, saat saya butuh seseorang untuk mendengarkan. Saat saya tak berkawan, saat saya butuh membangun kebahagiaan saya sendiri.

Kami kembali pergi ke restoran barat yang sama dengan teman-teman yang sedikit berbeda (sebagian sama dan sebagian tidak). Bermain permainan yang sama dengan sebelumnya, kami kembali berciuman, tapi semua saya anggap hanya permainan. Toh tak hanya kami yang berciuman, untuk apa dibesar-besarkan. Maka, disuatu saat saya mendorong teman yang baru dekat dengan saya untuk menciumnya. Saya ingin dia tak serius atas kami, saya ingin dia menyerah duluan, karna saya tahu saya akan sulit menolak dia. Saya lupa mereka benar-benar bercuman atau tidak, tapi sepertinya iya. 

Setelah kembali ke asrama, saya dan dia bersama hingga pagi datang. Hanya berbincang, tak lebih. Tapi saya tahu saya luluh waktu itu, banyak hal yang kami bicarakan membuat saya sadar dia sedikit baik. Baik dan menyenangkan. Lusanya kami kembali ke tempat yang sama. Dan dia merasa sudah dekat dengan saya, mengambil telepon genggam saya, berusaha memeriksanya, yang kemudian gagal karna maaf saya lebih cerdik. hahaha.

Saya sedikit canggung saat itu, karna saya sulit dekat dengan seseorang begitu cepat. Tapi dia memperlihatkannya seakan itu hal paling mudah. Saya berusaha dekat dengan orang lain, tapi kadang saya memanfaatkannya untuk melindungi saya. Waktu berlalu dengan cepat, kami pindah ke klub setelahnya. Menolak untuk memikirkan semua hal, saya memilih bersenang-senang. Saya bermalam di tempat teman saya. Belum yakin untuk lebih dekat dengannya. Kadang saya merasa takut, dia terlalu memikat.

Malam setelahnya, dia menghubungi saya di malam hari. Saya terlanjur mengantuk, jadi menolaknya saat itu juga. Esoknya, saya merasa bersalah, datang ke tempatnya untuk meminta maaf, yang kemudian berkelanjutan mengobrol hingga keesokhariannya. Entah apa yang kami bicarakan, mengalir begitu saja, semua terasa terlalu nyaman untuk dilontarkan. Ini awal kami benar-benar berbagi, saya mengenalnya sebagai pria baik disini, sebagai orang yang berkharisma, sebagai seorang yang saya nanti (mungkin). Siangnya kami pergi bersama temannya, makan siang bersama. 

Saya sebenarnya mencoba membatasi diri dengannya, namun beberapa kejadian dengan teman-teman saya malah membuat kami semakin dekat. Pasalnya dia orang yang mau mendengarkan keluhan dan menerima saya, serta menenangkan dan mencoba membuat saya senang. Hal itu membuat saya nyaman didekatnya. Pernah saya berharap bahwa dia secepatnya meresmikan hubungan kami, namun perlahan saya urungkan keinginan itu. Mencoba berfikit rasional, bahwa kami berasal dari budaya, bangsa dan nasionalisme yang berbeda, kami akan dipisahkan oleh waktu dan jarak. Oleh karenanya saya berupaya sebaik mungkin memanfaatkan waktu yang ada, dia bahagia, saya bahagia, membuat kenangan yang indah.

No comments:

Post a Comment