Monday, July 25, 2016

Kecelakaan Beruntun

Saya menganggap dia teman, tidak lebih. Namun, saya mengakui ada kesenangan setelah berbincang dengannya, perasaan lega, perasaan menemukan seseorang yang cocok dalam berbicara, menyenangkan. 

Tak lama, kami dan teman-teman pergi bersama ke sebuah restoran barat. Makan, minum bir dan bermain game, saya terbawa suasana hingga bermain lepas dan bebas tanpa berfikir panjang. Mencium dan dicium di pipi ole teman lainnya, belakangan mendapati diri sendiri menciumnya di bibir. Ya, mencium dia di bibir di tengah teman-teman lainnya. I must be drunk at that time. Dia mendorong saya menjauh, yang kemudian saya sedikit sadar. Namun, saya ingat bahwa teman-teman saya melihat kami. Malu setengah mati, saya segera mengontrol diri saya.

Saat perjalanan pulang, saya menghindari dia. Berjalan lebh cepat atau mengobrol dengan teman yang lain, sama sekali tidak mencari keberadaan dia. Sampai di asrama, saya berupaya membantu teman saya yang mabuk, mengantarkannya membeli ice cream, lalu kembali ke asrama. Dia berusaha mengikuti saya, merangkul pundak saya sambil berjalan yang secepatnya saya tolak. Well, he was reject me before! How dare him try to closer to me again?! Saya tak suka penolakan, gengsi saya tinggi, maka saya berusaha keras menjauhinya. 

Dia terus mengikuti hingga saya berusaha kembali ke kamar. Saya fikir dia telah menyerah, toh saya tinggal masuk ke kamar saya. Namun, entah bagaimana kami berciuman di lorong, tepat di depan kamar saya. And it much closer than i mean to be, and more than a while. Saya ingat setelahnya menyadari bahwa teman-teman menatap kami di ujung lorong yang berbeda. Malu setengah mati, saya masuk ke kamar saya, walaupun dia mengajak saya keluar. I really want to go at that time, but my mind tell me not to do. It will be more than a mistake. I decided not to, and say good bye to him.

Saya tak tahu apa yang terjadi kemudian di luar sana, i sleep like a baby right after.

No comments:

Post a Comment